Yogyakarta merupakan salah satu barometer seni di Indonesia, dalam kesempatan ini saya sengaja berkunjung ke Yogyakarta untuk melihat dan mendokumentasikan kegiatan umat Hindu sebelum Nyepi yaitu Melasti (larung Hindu) yang diadakan pada hari Sabtu, 9 Maret 2013 di Pantai Parangkusumo dan Tawur Kasanga (Tawur Agung), Senin 11 Maret 2013 di Candi Prambanan. Di parangkusumo saya berkenalan dengan pak teguh, seorang wartawan jogja trip, sebuah media yang memfokuskan kepada Liputan seni, budaya dan event yang ada di yogyakarta. Dia memberitahukan bahwa akan ada pertunjukan seni spektakuler di UGM yang mementaskan kesenian kontemporer, perpaduan wayang orang (ketroprak), wayang golek, seni tari, dan lukis di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Bulak Sumur UGM. Mendengar kabar tersebut, imajinasi saya langsung menggambarkan bahwa pertunjukan ini pasti sangat unik dan fantastis. Saya pribadi sangat menyukai pertunjukan seni kontemporer.

DSC_3721

Souvenir berupa striker bawor

Minggu petang 10 Maret 2013, setelah menyaksikan pertunjukan Kuda Gila di halaman parkir Pakualaman dan menikmati kuliner khas jogja yaitu Angkringan dan kopi joss di sekitar Stasiun Tugu, saya mempersiapkan diri untuk bisa hadir di Gedung PKKH UGM. Agak sulit mencari lokasi Gedung di Malam hari, karena sepinya kampus UGM diwaktu malam, sampai saya harus bertanya tiga kali baru bisa menemukan lokasi. Saat hendak masuk Gedung pertunjukan, ada hal yang sangat tidak asing bagi saya, suara calung Banyumasan dan tembang eling – eling sedang di mainkan untuk menyambut tamu yang hadir. Saya masih berpikir kalau tembang yang sedang dimainkan ini mungkin sudah merakyat di kawasan jogjakarta, namun saya semakin terkejut ketika mengisi buku tamu, souvenir yang diberikan oleh panitia adalah stiker bergambar BAWOR dengan tulisan “Inyong karo Rika Sedulur Banyumasan, mBanyumas nylekamin pisan..”, spontan langsung saya bertanya kepada para mahasisa yang bertugas sebagai penerima tamu, “Ini pertunjukan dari Banyumas??”, petugas itu pun menjawab, “Iya pak, ini pertunjukan seni kontemporer dari Banyumas, dan sekalian kumpul orang Banyumas yang tinggal di Jogja”. Saya semakin penasaran, pertunjukan apa yang akan dimainkan, dalam hati saya berkata “Joss pisan kiye wong Banyumas bisa gelar pertunjukan neng UGM” (keren sekali orang Banyumas bisa tampil di UGM). Rasa penasaran saya terjawab sudah, ketika saya masuk ruang pertunjukan, saya melihat sederet cowongan yang ditata di panggung, sinden dan calung Banyumasan dan latar belakang panggung yang menampilkan wajah seram khas seniman Gemblung Banyumas, Titut Edy. Sambil mencari kursi yang kosong, saya mendengar di ujung kiri deret belakang sekumpulan orang sedang tertawa bercanda guyon mbanyumasan. Ya baru pertama saya merasakan suasana semacam ini, merasakan begitu bangga menjadi wong Banyumas. Ternyata begitu senang rasanya ketika kita bisa berkumpul dan berdialog dengan orang sedaerah di daerah lain karena dari kecil sampai sekarang saya selalu setia dengan tanah Banyumas, sekolah, kuliah dan usaha di Banyumas.

DSC_2809

Wayang Cumplung

Sambil menunggu pertunjukan dimulai, para penonton menikmati sajian makanan Banyumasan, tentu saja hal ini semakin membuat saya merasa ini di Banyumas. Di barisan paling depan saya melihat seorang yang tidak asing bagi saya, Bapak Dwi Pindanto, Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata Banyumas. Tak lama setelah itu, MC membuka acara dengan dagelan dan guyon – guyon Banyumasan, membuat hampir seluruh penonton terpingkal – pingkal, walaupun banyak mahasiswa dan undangan yang bukan asli Banyumas, namun merekapun ikut tertawa mendengar dialek logat Banyumasan yang memang terdengar lucu walaupun tidak mengerti artinya. Acara dibuka dengan sambutan ketua panitia, perwakilan dari UGM, perwakilan dari yayasan SERULINGMAS dan oleh Kepala Dinporabudpar Banyumas. Pada saat akan diserahan gunungan wayang oleh perwakilan dari UGM dan Serulingmas kepada Dalang pentas Titut edy sebagai simbolis pentas akan dimulai, MC berulangkali memanggil Dalang untuk tampil di panggung, namun tidak ada respon, sampai mereka tengok kanan kiri panggung tampak bingung. Ternyata Dalang beserta rombongan pemain masuk dari pintu masuk dengan arak – arakan yang unik dan nyentrik. Para penonton yang umumnya belum pernah meyaksikan Dalang gemblung Titut Edy pun hampir semua melihat kearah belakang dengan pandangan takjub dan heran. Serombongan orang menari – nari, sebagian berdandan menyerupai setan (gendruwo), sebagian berkostum tari, sebagian memanggul Dalang dan sebagian meyebarkan kembang.

DSC_2811

Sambutan dari Perwakilan UGM

DSC_2813

Sambutan dari perwakilan Serulingmas

DSC_2814

Sambutan dari Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Banyumas

DSC_2816

DSC_2820

Dalang masuk panggung dengan arak – arakan

DSC_6475

DSC_2826

DSC_2807

Tema Pentas Wayang Cumplung

Tepuk tangan dari penonton saat itu langsung bergemuruh di Gedung pertunjukan, saya akui tampilan waktu itu benar – benar unik. Saya sendiri belum pernah melihat pertunjukan wayang cumplung ini sebelumnya, hanya sekali melihat pertunjukan Titut Edy saat tahun baru 2013, yaitu melukis dengan tubuh dan lukis bareng puluhan seniman Banyumas. Setelah penyerahan Gunungan, Dalang mulai mengenalkan Wayang Cumplung sebagai prolog. Cumplung sendiri dalam bahasa Banyumas berarti Kelapa yang isinya sudah dimakan oleh tupai atau bajing, sehingga kosong tak berisi. Sebuah istilah yang menggambarkan manusia yang kelihatannya berisi ternyata kosong. Tema Pentas malam itu adalah “Menangi Jaman Edan, Ora Bisa Mbedakna Endi Belis Endi Ewong” (Menjumpai Zaman Edan/gila, tidak bisa membedakan mana setan/iblis, mana manusia).

Dalam pentas ini diceritakan begitu gilanya zaman sekarang, kita tidak bisa membedakan mana manusia mana iblis. Manusia bertingkah laku seperti iblis. Pentas diawali dengan munculnya Syeh Krosak yang diperankan oleh seniman lukis Banyumas Hadi Wijaya, Syeh Krosak adalah seorang yang turun dari kayangan yang akan menggambarkan keadaan Zaman sekarang melalui media lukis. Kemudian muncul Pencari kodok (katak), tukang nderes (pencari sari aren untuk dibuat gula jawa), seorang ibu dan anaknya yang berbadan gemuk tetapi kelaparan. Pencari kodok dan tukang nderes diceritakan sebagai rakyat bawah yang tidak pernah korupsi, apa yang mau dikorupsi?? sedangkan mereka mendapatkan penghasilan hanya dari menukarkan katak dan aren yang mereka dapat dengan uang. Sehingga mereka hanya mendapatkan penghasilan dari kerja kerasnya saja. Gambaran lain yang diceritakan dalam pentas ini adalah manusia yang rakus, korupsi, membuat kacau dunia digambarkan dengan lakon seorang yang berwajah iblis menggunakan Jas, yang merupakan simbol pejabat, eksekutif yang seharusnya menjadi panutan namun ternyata tingkah lakunya seperti iblis, sehingga menyengsarakan rakyat. Walaupun menggunakan bahasa Banyumas, penggambaran cerita yang sangat gamblang melalui media wayang cumplung membuat penonton tetap bisa mengikuti alur cerita.

DSC_2832

Penampilan dalang Gemblung dengan tokoh wayang Syeh Krosak

DSC_2867

Tokoh wayang menggambarkan manusia tetapi berkelakuan seperti iblis

Sang Dalang sangat pintar membuat penonton penasaran, semua penonton termasuk saya pada awalnya pasti berpikir bagaimana caranya menggabungkan wayang cumplung (cowongan), wayang orang, tari dan lukis dalam satu kesatuan pentas, sedangkan biasanya seni itu berdiri sendiri – sendiri. Awalnya Dalang memainkan wayang yang terbuat dari batok kelapa seperti wayang golek dengan mengenalkan tokoh – tokokhnya. Kemudian satu persatu tokoh dari wayang itu diilustrasikan turun dari kayangan dalam bentuk manusia yang memainkan peran sebagai tokoh tersebut. Setelah tokoh berwujud manusia masuk panggung, sang Dalang memberi pengait pada tangan dan menancapkan manusia tersebut seperti halnya wayang cumplung tadi. Dalang memainkan dan menggerakan pengait tersebut, ketika dalang berbicara, tokoh manusia tersebut membuka mulutnya mengikuti ucapan dalang tanpa bersuara. Salah tokoh yaitu Syeh Krosak kemudian ditugaskan untuk menggambarkan gambaran zaman sekarang melalui media kanvas, selama syeh krosak melukis, Dalang terus memainkan wayang manusia tadi. Biasanya dalam memainkan wayang hanya menggunakan dua tangan Dalang, namun Dalang gemblung ini memainkan dengan kedua tangan dan kakinya. Ditengah pentas, dua orang wanita yang berperan sebagai penari Lengger mangajak tamu undangan untuk ikut menari Lengger Banyumasan, tentu ini menambah menarik pertunjukan ini, tidak hanya menonton tapi sebagian penonton ikut berperan menari lengger di panggung.

Di akhir pentas, gambaran zaman sekarang yang digambar oleh Syeh Krosak menggambarkan sosok berkepala tikus dan berbadan manusia telah selesai, sang Dalang kemudian membacakan salah satu ayat Al Quran yang menggambarkan suasana kiamat. Diamana ketika datang kiamat manusia akan berhamburan seperti debu dan gunung pun akan hancur, tidak ada yang bisa dilakukan pada saat itu. Alat – alat pentas seperti gunungan wayang dilempar, wayang cumplung yang menggambarkan manusia dilempar berhamburan memperkuat gambaran kiamat. Dalang mengajak manusia bertaubat sebelum kiamat datang, mengajak kembali ke jalan yang benar, yaitu jalan yang telah diajarkan oleh agama jangan terus menerus korupsi, berbuat kerusakan di dunia seperti iblis. Pentas pun selesai dan seluruh penonton menyambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Luar Biasa dalang gemblung Banyumas Titut Edy.

Wayang pada dasarnya adalah sebuah tontonan yang merupakan tuntunan, begitu pintar para wali songo zaman dahulu untuk mengajak masyarakat jawa lebih religius. Bagi saya, ini sungguh sebuah pementasan yang sangat menarik, tidak hanya menghibur tetapi juga penuh nasehat dan makna, bahwa hidup itu cuma sekali, mau menjadi iblis atau menjadi manusia yang lurus dan mulia itu pilihan kita. Jangan sampai kita salah memilih langkah, kita akan menyesal selamanya.

DSC_2858 DSC_6486 DSC_6521 DSC_6500 DSC_6516 DSC_2842 DSC_2846 DSC_6527